INSERSI Pendidikan Anti Korupsi Melalui Mata Pelajaran PPKN Jenjang SD, SMP , SMA & SMK

Perilaku koruptif telah merasuki semua elemen bangsa. Padahal, kita semua tahu perilaku seperti itu membuat tindak pidana korupsi menjadi hal yang dianggap biasa. Sebuah ironi karena perilaku tersebut adalah perbuatan tidak bermoral.


Perilaku koruptif ditandai oleh hilangnya nilai-nilai jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggungjawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil dari dalam diri individu. Mengapa nilai-nilai karakter ini makin menghilang, tentu menjadi keprihatinan kita.
Padahal, dunia pendidikan, ditujukan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Inti dari pendidikan adalah penguatan karakter.

Muatan Kurikulum Pendidikan Antikorupsi

Pendidikan antikorupsi diawali dengan memastikan bahwa kurikulum mengakomodasi nilai-nilai antikorupsi. Sehubungan dengan ini, sebagai jantung pendidikan, kurikulum memiliki dua kekuatan, yaitu: 

  1. Pertama, ketepatan memilih substansi atau lingkup pengetahuan yang akan dibelajarkan. Kebenaran substansi tidak disangsikan, urgent (penting) untuk dipelajari, benar- benar bermanfaat, relevan dengan kebutuhan peserta didik dan kehidupan, serta memancing minat peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut secara mandiri.
  2. Kedua, pengelolaan kurikulum melalui pembelajaran yang efektif yang didukung oleh sistem penilaian yang mengarah pada pencapaian kompetensi (valid) dan realiable (dapat dipercaya, ajeg, konsisten, andal dan stabil). Pengelolaan kurikulum diawali dengan penyusunan perencanaan pembelajaran yang benar-benar dapat dijadikan sebagai acuan dan pengendalian proses pembelajaran. Perencanaan tersebut memperhitungkan kelayakan dan keterlaksanaanya, disesuaikan dengan kondisi yang ada, mempertimbangkan perbedaan potensi dan kecepatan serta gaya belajar peserta didik, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari siswa, tanggap terhadap berbagai perubahan situasi yang terjadi tiba-tiba, dan memberikan berbagai alternatif pengalaman belajar.


Kedua kekuatan itulah yang menjamin ketercapaian tujuan pembelajaran. Tanpa pengelolaan yang tepat, substansi yang hebat akan kehilangan makna. Demikian pula sebaliknya, kekeliruan dalam memilih substansi mengakibatkan pembelajaran menjadi sia-sia. Agar substansi kurikulum dapat dikelola dengan baik, maka guru sebagai pendamping siswa harus benar-benar memahami kedua aspek tersebut.
Supaya kurikulum memudahkan semua guru untuk melakukan pembelajaran, maka semua kebijakan pemerintah tentang kurikulum harus mudah dipahami, mudah dijabarkan, mudah disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi yang ada di sekitarnya (flexible), mudah dikelola oleh guru (manageable), terukur ketercapaiannya (measurable), terlihat tahapan perkembangannya (observable) dan dapat diprediksi hasilnya (predictable). 
Apabila semua itu terpenuhi, maka substansi yang semula dianggap sulit, akan mudah dipelajari oleh siswa (learnable). Substansi yang semula dianggap sebagai beban akan menjadi kebutuhan dan bermakna bagi kehidupan.
Artinya, keberadaan kurikulum menjadi alat bantu yang memudahkan dan melancarkan proses pembelajaran, bukan mempersulit apalagi merepotkan semua pihak (guru, siswa, dan orang tua).

Aksi Guru dalam Pendidikan Antikorupsi

Pendidikan antikorupsi adalah proses untuk menguatkan sikap antikorupsi
dalam diri peserta didik sedini mungkin. Untuk itu diperlukan
aksi guru yang benar-benar berangkat dari keinginan untuk membangun
peradaban baru yang lebih baik dan bebas korupsi. Aksi yang

diperlukan dari guru sebagai berikut:

  1. Guru adalah lokomotif perbaikan. Siapkan diri untuk membuat generasi mendatang jauh lebih baik. Jadilah teladan bagi peserta didik, beri contoh, dan tampilkan semangat yang kuat.
  2. Buat perencanaan yang rinci sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik serta menggunakan sumber dan bahan ajar yang tersedia di alam dan lingkungan sekitarnya. Jadikan pembelajaran yang menyenangkan dan efektif.
  3. Wujudkan suasana belajar sesuai dengan apa yang telah direncanakan dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik serta menggunakan sumber dan bahan ajar yang tersedia di alam dan lingkungan sekitarnya.
  4. Lakukan evaluasi terhadap ketercapaian sikap peserta didik sesuai tujuan. Jaga konsistensi pengamalan dan penerapan sikap di sekolah dan di luar sekolah. Perbaiki proses secara terus menerus.


Aspek Pendidikan Antikorupsi


Aspek Pendidikan Antikorupsi mengacu pada pengertian kompetensi yang mencakup; pengetahuan, keterampilan dan sikap.
  1. Tahu (Pengetahuan) Peserta didik dikondisikan untuk tahu, sadar, dan paham tentang perilaku antikorupsi. Untuk tahu, sadar, dan paham dapat dilakukan melalui mendengar, melihat, membaca, dan merasa. Agar proses pengkondisian peserta didik untuk tahu, sadar, dan paham lebih efektif, maka sekolah dapat melakukan melalui mata pelajaran sebagai alat. Dalam hal ini mata pelajaran yang dimaksudkan adalah PPKn.
  2. Bisa (Keterampilan) Peserta didik dikondisikan untuk bisa mempraktekkan perilaku antikorupsi, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Agar proses pengkondisian dapat berjalan efektif, perlu dilakukan melalui berbagai alat yang bernama mata pelajaran, khususnya PPKn, dan melalui berbagai aktivitas di sekolah dan di luar sekolah.
  3. Terbiasa (Sikap)Peserta didik dikondisikan untuk terbiasa menunjukkan perilaku antikorupsi dalam hidupnya, di manapun, kapanpun dan dalam suasana bagaimanapun. Agar proses pembiasaan berjalan efektif, perlu dilakukan pembiasaan oleh peserta didik di mana sekolah bertindak sebagai lokomotif.


Langkah Penguatan

Langkah penguatan perilaku antikorupsi, merupakan siklus yang dapat dimulai dari tiga aspek, yaitu; pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Akan tetapi muara yang diharapkan dari pendidikan antikorupsi adalah sikap antikorupsi yang terbentuk pada setiap individu atas dasar pemahaman dan kesadaran yang kuat.

1. Pengetahuan. Peserta didik dikondisikan untuk mengetahui dan memahami tentang antikorupsi. Tahu dan paham bisa bersumber dari mendengar, melihat, membaca atau merasa.
a. Mendengar bisa dari guru, teman, tokoh, masyarakat, baik secara langsung atau melalui media;
b. Melihat bisa melihat secara langsung atau melalui media;
c. Membaca bisa dari buku, media lain, atau alam;
d. Merasa bisa dari pengalaman langsung atau tidak langsung.

2. Keterampilan. Setelah tahu dan bisa, pembelajaran juga harus melangkah pada kemampuan peserta didik untuk bisa, mampu atau terampil mempraktekkan dan melakukan secara nyata. Proses ini dapat dikondisikan melalui latihan yang terus menerus dan konsisten di sekolah dan di luar sekolah.

3. Sikap. Sikap terbentuk karena keterampilan yang terbiasa dan konsisten dilakukan di manapun, kapanpun, dan dalam suasana bagaimanapun. Sikap terbentuk melalui pembiasaan yang konsistenndi sekolah dan di luar sekolah.